Nasi Mandi dan Nasi Kabsa adalah dua hidangan nasi yang paling ikonik dan dicintai di Jazirah Arab. Meskipun keduanya menggunakan nasi Basmati dan daging (biasanya kambing atau ayam) serta disajikan di nampan besar untuk dimakan bersama, mereka memiliki perbedaan mendasar dalam teknik memasak, profil bumbu, dan identitas regional yang membentuk cita rasa dan tekstur unik masing-masing.

Beras Banyuwangi - Pabrik Beras Banyuwangi

Identitas Regional: Yaman vs. Saudi

 

Perbedaan yang paling mendasar adalah asal-usul geografisnya, yang pada akhirnya memengaruhi popularitas regional.

  • Nasi Mandi: Berasal dari wilayah Hadhramaut, Yaman. Namanya sendiri, “Mandhi,” diduga berasal dari kata Arab yang berarti “embun” (nada), merujuk pada tekstur dagingnya yang sangat lembut dan lembap akibat teknik memasak yang unik. Mandi identik dengan masakan Yaman dan banyak disukai di bagian selatan Arab Saudi serta Oman.

  • Nasi Kabsa: Secara luas dianggap sebagai hidangan nasional Arab Saudi dan sangat populer di seluruh negara-negara Teluk Arab lainnya (sering disebut Machboos atau Makboos di Kuwait, Qatar, dan Bahrain). Nama “Kabsa” sendiri berasal dari kata kerja Arab k-b-s yang berarti “menekan” atau “memuat,” mengacu pada cara semua bahan dimasak bersama-sama dalam satu panci.

Teknik Memasak: Asap vs. Rebusan Satu Panci

 

Metode memasak adalah kunci pembeda yang paling mencolok antara kedua hidangan ini dan secara langsung memengaruhi tekstur dan aroma akhir.

1. Nasi Mandi: Teknik Tanour (Panggangan Bawah Tanah)

 

Teknik tradisional Mandi melibatkan penggunaan tanur atau tabun, yaitu oven tanah liat yang dipanaskan dengan arang atau kayu.

  • Daging: Daging, yang telah dibumbui ringan, digantung di dalam tanur atau diletakkan di rak di atas nasi, lalu dimasak secara perlahan dengan api kecil. Asap dan panas merata membuat daging menjadi sangat empuk (fall-off-the-bone) dan smoky.

  • Nasi: Nasi diletakkan di dasar tanur, dimasak dengan air kaldu atau tetesan jus dan lemak alami dari daging yang menetes ke bawah. Proses ini menghasilkan nasi yang ringan, fluffy, dengan aroma asap khas.

2. Nasi Kabsa: Teknik Kabsah (Panci Bersama)

 

Kabsa dimasak menggunakan metode satu panci (one-pot meal) yang lebih konvensional, biasanya di panci besar atau pressure cooker (panci presto) untuk versi modern.

  • Daging & Nasi: Daging direbus hingga empuk dalam kaldu rempah yang kaya rasa. Nasi kemudian dimasak langsung di dalam kaldu yang sama. Setelah matang, daging diangkat, dipanggang sebentar di oven untuk mendapatkan warna kecokelatan yang cantik (roasting), sementara nasi tetap di dalam panci.

  • Hasil: Teknik ini menghasilkan nasi yang lebih berat, pulen, dan kaya rasa kaldu, karena semua rasa rempah diserap sepenuhnya oleh nasi.

Profil Bumbu dan Warna

 

Meskipun keduanya menggunakan rempah-rempah umum Arab seperti kapulaga, kayu manis, dan cengkeh, komposisi dan intensitas rempah mereka sangat berbeda, menghasilkan warna yang kontras.

Kriteria Nasi Mandi Nasi Kabsa
Bumbu Inti Hawaij (campuran rempah ringan Yaman), kunyit, jintan, ketumbar. Rempah Kabsa yang lebih kaya dan berani, limau hitam kering (Loomi), kunyit, paprika, cengkeh, ketumbar.
Pewarna/Rasa Dasar Kunyit atau sedikit saffron untuk menghasilkan warna kuning cerah/keputihan (two-tone rice). Pasta atau Pure Tomat (kadang cabai) untuk menghasilkan warna oranye kemerahan yang lebih pekat.
Rasa Akhir Lebih ringan, aromatik dengan penekanan pada kelembutan daging dan aroma asap. Lebih berani, gurih, dan sedikit asam karena dominasi loomi dan tomat.

Secara ringkas, Nasi Mandi adalah tentang aroma asap yang halus dan kelembutan daging dengan nasi yang ringan, sementara Nasi Kabsa adalah tentang rasa rempah yang intens, gurih, dan sedikit tangy (asam segar) yang diserap langsung oleh nasi, menjadikannya hidangan yang lebih robust (kuat).

Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!

BERAS BANYUWANGI - BINTANG PUSAKA JAYA