Meskipun Prancis tidak memiliki warisan mitologi padi yang sekuat negara-negara Asia, komoditas yang ditanam di lahan basah Camargue, Delta Rhône, ini tetap memiliki tempat yang istimewa—bukan dalam mitos dewa-dewi, melainkan dalam identitas, cerita rakyat, dan tradisi unik wilayahnya. Padi Camargue, yang seringkali dianggap sebagai “emas putih” lokal, dihargai melalui narasi ketahanan, keharmonisan lingkungan, dan keunikan ekologis.
Beras: Simbol Ketahanan dan Penaklukan Lahan
Bukan cerita rakyat tentang asal mula padi, melainkan tentang asal mula penanaman padi di wilayah yang keras. Cerita-cerita lokal di Camargue sering menyoroti perjuangan melawan alam. Beras pertama kali diperkenalkan secara signifikan pada abad ke-16, tetapi baru benar-benar berkembang setelah Perang Dunia II. Narasi ini berfokus pada kegigihan dan inovasi para petani yang mengubah lahan yang sebelumnya terlalu asin dan liar menjadi ladang subur.
Dalam cerita-cerita lisan, padi dipandang sebagai simbol kemenangan manusia atas tantangan lingkungan. Petani sering menceritakan bagaimana air tawar yang digunakan untuk membajak sawah tidak hanya menumbuhkan bulir, tetapi juga membantu “membersihkan” tanah dari garam yang berlebihan. Ini adalah kisah kepahlawanan pragmatis di mana padi menjadi pahlawan ekologis, membuat lahan yang tidak dapat digunakan menjadi produktif.
Padi dan Harmoni Ekologis
Camargue adalah cagar alam yang terkenal dengan populasi burungnya, kuda putih, dan banteng liar. Di sinilah beras Prancis menemukan narasi mitologis yang paling kuat: keharmonisan dengan alam.
Beras Camargue, khususnya varietas Merah dan Hitam, seringkali dihubungkan dengan gambaran ekosistem yang seimbang. Bagi penduduk lokal, sawah padi bukanlah monokultur yang merusak, tetapi bagian integral dari lanskap yang mendukung keanekaragaman hayati. Ada semacam penghargaan “sakral” terhadap padi karena perannya sebagai penyeimbang ekologis. Ketika sawah digenangi air, mereka berfungsi sebagai area singgah penting bagi burung migran.
Dalam cerita rakyat, sawah padi dan kanal irigasi yang mengular sering dianggap sebagai urat nadi yang memberi kehidupan bagi seluruh wilayah, sebuah karunia yang memungkinkan kuda, banteng, flamingo, dan manusia untuk hidup berdampingan.
Tradisi dan Festival Lokal
Penghargaan terhadap beras di Prancis paling terlihat dalam tradisi dan festival tahunan di Camargue. Meskipun bukan upacara keagamaan, perayaan panen padi—seperti Fête du Riz di Arles—memiliki nuansa ritual yang mendalam.
Festival ini merayakan bukan hanya hasil panen itu sendiri, tetapi juga identitas budaya yang terjalin erat dengannya. Ada mitos kontemporer bahwa beras Camargue memiliki “jiwa” yang unik karena tumbuh dalam lingkungan yang begitu istimewa, diapit oleh Laut Mediterania dan Sungai Rhône, di bawah cahaya Provence yang khas. Beras dianggap sebagai representasi fisik dari terroir Camargue yang unik.
Dengan demikian, beras Prancis dihargai dalam cerita rakyat lokal sebagai simbol ketahanan manusia, keajaiban ekologis, dan inti dari identitas Camargue. Ini adalah narasi di mana beras, alih-alih dilahirkan oleh dewa, adalah hasil dari semangat gigih para petani yang hidup selaras dengan lahan basah yang berharga.
Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!