Beras sebagai Pusat Kosmos: Memahami Posisi Nasi dalam Tata Hidup Masyarakat Asia

 

Bagi lebih dari separuh populasi dunia, terutama di Asia, beras bukan sekadar makanan pokok; ia adalah poros peradaban, pusat dari sebuah “kosmos” sosial, budaya, dan spiritual. Kedudukannya melampaui sumber karbohidrat, menjelma menjadi simbol identitas, kemakmuran, dan keharmonisan. Jika masyarakat Barat bertanya, “Apa kabar?”, masyarakat Tiongkok secara filosofis menyapa, “Apakah kamu sudah makan nasi hari ini?”—menunjukkan bahwa nasi adalah sinonim dari kehidupan itu sendiri.

Beras Banyuwangi - Pabrik Beras Banyuwangi

Secara kultural, peran beras terpatri kuat dalam mitologi kuno. Di Indonesia dan beberapa wilayah Asia Tenggara, padi dipersonifikasikan sebagai Dewi Sri (Shri Devi), dewi kesuburan dan kehidupan. Kehadiran Dewi Sri memastikan panen berlimpah dan kesejahteraan rakyat. Penghormatan ini terwujud dalam ritual-ritual panen seperti Seren Taun (Sunda) atau penempatan lumbung padi (goah atau senthong tengah di Jawa) sebagai ruang suci yang dijaga kesuciannya. Padi tidak diperlakukan sebagai komoditas mati, melainkan sebagai anugerah ilahi yang harus dihormati.

Dalam tata ruang sosial, persawahan mendefinisikan komunitas dan sistem kerja. Sistem irigasi tradisional seperti Subak di Bali adalah contoh nyata bagaimana beras membangun struktur sosial-ekologis yang kompleks, di mana air, tanah, dan manusia dikelola berdasarkan filosofi Tri Hita Karana (tiga penyebab keharmonisan). Sawah bukan hanya lahan pertanian, melainkan juga wadah gotong royong dan kesetaraan dalam pembagian sumber daya alam.

Lebih jauh, nasi berfungsi sebagai perekat sosial dan penanda ritual penting. Dalam setiap perayaan, baik kelahiran, pernikahan, hingga kematian, nasi (seringkali dalam bentuk tumpeng atau ketupat) selalu hadir di tengah meja. Nasi Tumpeng, misalnya, dengan bentuk kerucutnya, melambangkan gunung sebagai tempat bersemayamnya para dewa atau alam semesta, dengan nasi sebagai pusatnya—sebuah representasi mikrokosmos di atas piring. Makanan ini menyatukan lauk pauk yang beragam, mencerminkan filosofi kerukunan dan kebersamaan di tengah keberagaman.

Bahkan dalam bahasa sehari-hari, ketergantungan ini terlihat jelas. Istilah Indonesia “makan” (mangan di Jawa) secara inheren merujuk pada makan nasi. Seseorang yang telah mengonsumsi makanan lain (seperti roti atau mi) seringkali masih merasa “belum makan” jika belum menyentuh nasi. Hal ini menunjukkan bahwa nasi adalah definisi psikologis tentang rasa kenyang dan kepuasan.

BERAS BANYUWANGI - BINTANG PUSAKA JAYA

Singkatnya, beras sebagai pusat kosmos adalah pengakuan bahwa seluruh peradaban Asia Tenggara dan Asia Timur telah dibentuk oleh biji-bijian kecil ini. Ia menentukan ekonomi, membentuk ritual spiritual, mengatur struktur sosial pedesaan, dan menjadi tolok ukur kebahagiaan dan kemakmuran sehari-hari. Beras adalah jembatan antara yang fana dan yang ilahi, antara alam dan manusia. (498 kata)

Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!

BERAS BANYUWANGI - BINTANG PUSAKA JAYA