Kabsa, mahkota gastronomi Semenanjung Arab, secara tradisional adalah hidangan sederhana: nasi yang dimasak dalam kaldu rempah kaya rasa, disajikan bersama potongan besar daging (kambing, ayam, atau unta) dan dihiasi kismis serta kacang-kacangan. Hidangan ini adalah lambang kemurahan hati, biasa disajikan di atas nampan besar untuk dimakan bersama-sama. Namun, di era digital dan globalisasi kuliner, Kabsa sedang mengalami metamorfosis dramatis yang didorong oleh dua kekuatan utama: restoran mewah dan influencer media sosial.
Kanvas Kosong bagi Koki Kontemporer
Di masa lalu, variasi Kabsa terbatas pada perbedaan regional—Kabsa Arab Saudi berbeda dari versi Yaman, misalnya—terutama dalam penggunaan rempah dan hashu (isian). Saat ini, restoran kelas atas melihat Kabsa sebagai kanvas untuk inovasi. Mereka mulai memecah dan membangun kembali komponen klasik ini:
-
Protein Eksotis: Ayam panggang sederhana digantikan oleh bebek confit, wagyu brisket, atau bahkan seafood premium. Teknik memasak Barat, seperti memasak sous vide atau pengasapan berjam-jam, diterapkan untuk menghasilkan tekstur daging yang jauh lebih lembut.
-
Rempah yang Ditingkatkan: Profil rasa tradisional masih dipertahankan, tetapi diperhalus. Rempah-rempah seperti kapulaga dan kunyit mungkin didapatkan dari sumber tunggal (single-origin) yang premium. Bumbu-bumbu segar dan minyak herbal mewah digunakan sebagai sentuhan akhir, menggantikan lemak hewani murni.
-
Presentasi Estetika: Porsi besar di atas nampan telah berevolusi menjadi piring individu yang tertata indah (plating). Nasi mungkin dicetak dalam bentuk sempurna, dihiasi dengan serpihan emas, atau disajikan dengan microgreens dan saus demi-glace yang terinspirasi Timur Tengah. Ini mengubah Kabsa dari makanan komunal menjadi pengalaman bersantap pribadi yang eksklusif.
Kekuatan Media Sosial dan Visual
Jika restoran mewah mengubah tekstur dan rasa, maka food blogger dan content creator adalah yang mengubah persepsi visual Kabsa. Platform seperti Instagram dan TikTok menuntut estetika yang menarik, mendorong Kabsa untuk menjadi fotogenik.
-
Tren “Visualisasi”: Influencer fokus pada momen “daging jatuh dari tulang” (fall-off-the-bone), slow-motion saat kuah rempah disiramkan ke nasi, dan tentu saja, presentasi plating yang rapi. Mereka merayakan Kabsa yang secara visual memukau, sering kali menambahkan elemen yang tidak tradisional, seperti bunga yang dapat dimakan atau garnish yang terlalu rumit.
-
Aksesibilitas Resep: Sebaliknya, banyak blogger juga menyederhanakan proses Kabsa untuk koki rumahan, membuatnya terlihat mudah dibuat di dapur modern. Mereka memperkenalkan resep “Kabsa Ekspres” menggunakan pressure cooker atau rice cooker, mendemokratisasikan hidangan yang dulunya membutuhkan waktu lama.
Dampak Budaya
Evolusi ini memiliki dampak dua sisi. Di satu sisi, ia membantu mengangkat Kabsa ke panggung kuliner internasional, menarik perhatian global. Kabsa tidak lagi hanya dianggap sebagai hidangan lokal, tetapi sebagai masakan kaya yang mampu bersaing dengan paella atau risotto. Di sisi lain, hal ini memicu debat tentang otentisitas. Para puritan khawatir bahwa inovasi yang berlebihan menghilangkan esensi budaya dan sejarah dari Kabsa.
Terlepas dari perdebatan, evolusi Kabsa adalah cerminan dari identitas Arab modern: menghargai tradisi sambil merangkul modernitas. Berkat kreativitas koki dan lensa digital food blogger, hidangan klasik ini terus menemukan cara baru untuk memuaskan mata dan perut.
Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!