Di mata dunia, Jazirah Arab sering diasosiasikan dengan kurma, gandum, dan daging kambing. Namun, dalam setiap jamuan besar, hidangan yang selalu menjadi bintang utama—dari Kabsa di Riyadh hingga Mandi di Yaman—adalah beras. Pertanyaannya, bagaimana tanaman yang membutuhkan banyak air ini, yang tumbuh subur di delta dan rawa-rawa Asia, bisa tiba dan menjadi makanan pokok yang tak tergantikan di tanah gurun?
Kisah beras di Jazirah adalah cerminan epik jaringan perdagangan global dan adaptasi budaya.
Melalui Gerbang Perdagangan Kuno
Beras (genus Oryza) berasal dari Asia, tetapi perjalanannya ke Arab bukanlah jalur tunggal. Bukti sejarah menunjukkan bahwa beras mulai masuk secara signifikan selama periode Kekaisaran Persia Sasanid (abad ke-3 hingga ke-7 Masehi). Persia, yang memiliki hubungan dagang dan politik yang erat dengan Mesopotamia (Irak modern) dan India, menjadi gerbang utama.
Ketika Islam bangkit pada abad ke-7, beras mendapatkan dorongan baru. Ekspansi kekhalifahan yang cepat menghubungkan Jazirah Arab dengan wilayah penghasil beras yang melimpah, khususnya Lembah Indus (Sindh) dan kemudian delta Sungai Nil di Mesir. Beras menjadi komoditas penting di sepanjang Jalur Rempah dan Jalur Sutra Maritim, diperdagangkan bersama dengan wewangian, permata, dan tekstil.
Pedagang Arab, yang dikenal akan keterampilan navigasi dan perdagangannya, tidak hanya membawa komoditas, tetapi juga keahlian. Beras yang diimpor oleh pedagang Arab dari India dan Asia Tenggara saat itu dikenal sebagai komoditas yang mahal, menjadikannya simbol status dan kemewahan—sering kali disajikan hanya di istana atau acara-acara besar.
Adaptasi Budaya: Dari Kemewahan Menjadi Kebutuhan
Pada awalnya, biji-bijian lokal seperti gandum dan jelai mendominasi pola makan, terutama dalam bentuk roti (khubz) dan bubur. Beras, meskipun diperdagangkan, tetap menjadi barang premium.
Titik balik terjadi ketika ketersediaan beras semakin stabil, terutama berkat impor yang masif dan efisien. Pada masa Kekhalifahan Abbasiyah (abad ke-8 hingga ke-13), pusat-pusat pertanian di Irak dan Mesir—yang kini berada di bawah kendali Islam—berkembang pesat. Beras yang ditanam di wilayah-wilayah yang berdekatan ini dengan mudah didistribusikan ke seluruh wilayah kekhalifahan, termasuk Jazirah.
Di dapur Arab, beras mulai beradaptasi dengan cita rasa lokal. Ia tidak lagi dimasak hanya dengan air seperti di Asia, tetapi direbus atau dimasak dengan kaldu daging, rempah-rempah yang melimpah (seperti kapulaga, cengkeh, dan kayu manis), dan lemak hewani. Kombinasi ini melahirkan cikal bakal hidangan-hidangan kaya rasa yang kita kenal sekarang, seperti Kabsa dan Mandi. Beras menjadi fondasi yang sempurna untuk menyerap dan menyeimbangkan rasa rempah-rempah yang kuat.
Beras Hari Ini: Raja di Meja Makan
Saat ini, sebagian besar negara di Jazirah Arab bergantung pada impor, dengan Basmati (beras biji panjang yang harum dari anak benua India) sebagai varietas yang paling diminati. Varietas ini sangat dihargai karena kemampuannya untuk tetap terpisah dan “fluffy” (mengembang) setelah dimasak, menjadikannya ideal untuk hidangan yang kaya minyak dan kaldu.
Meskipun tantangan iklim membuat penanaman skala besar sulit, peran beras di Jazirah Arab tidak pernah pudar. Beras telah bertransformasi dari barang impor mewah menjadi simbol keramahtamahan dan kekayaan kuliner. Kehadirannya yang wajib dalam setiap pertemuan keluarga, pernikahan, dan perayaan membuktikan bahwa ia telah berakar kuat, bukan hanya dalam tanah, tetapi dalam jiwa budaya Arab.
Beras adalah bukti nyata bahwa Jazirah Arab, jauh dari menjadi wilayah yang terisolasi, adalah titik pertemuan peradaban dan komoditas dari seluruh penjuru dunia.
Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!