Beras adalah urat nadi kehidupan di Jepang, namun di beberapa sudut pedesaan, tanaman pangan ini telah melampaui fungsinya sebagai makanan pokok. Di sana, petak-petak sawah bukan hanya tempat memanen padi, melainkan kanvas musiman yang membentang luas, tempat di mana padi diubah menjadi karya seni visual yang menakjubkan—sebuah fenomena yang dikenal sebagai Tanbo Art (atau Tanbo Āto, seni sawah).

Beras Banyuwangi - Pabrik Beras Banyuwangi

Definisi dan Teknik Unik

 

Tanbo Art adalah praktik seni yang memanfaatkan perbedaan warna dan tekstur alami dari berbagai jenis varietas padi. Secara harfiah, tan berarti “sawah” dan bo adalah kependekan dari inaho (tangkai padi). Ini adalah bentuk seni agrikultural yang menciptakan gambar raksasa, mulai dari potret tokoh sejarah, mitologi Jepang, hingga karakter anime modern, yang hanya dapat diapresiasi secara utuh dari sudut pandang yang tinggi.

Kunci dari Tanbo Art adalah pemilihan “cat”-nya. Para seniman-petani menggunakan varietas padi non-pigmen (hijau muda), padi ungu, padi kuning, dan bahkan padi merah tua. Dengan penanaman yang sangat terencana, perbedaan warna daun padi ini akan memunculkan kontras dan kedalaman yang diperlukan untuk membentuk ilusi visual yang rumit.

Kelahiran di Inakadate

 

Fenomena ini pertama kali muncul pada tahun 1993 di desa kecil Inakadate, Prefektur Aomori, Jepang Utara. Desa ini, seperti banyak komunitas pedesaan lainnya, bergulat dengan penurunan populasi dan migrasi generasi muda. Inakadate mencetuskan ide Tanbo Art sebagai upaya revitalisasi unik, memanfaatkan satu-satunya sumber daya yang mereka miliki: sawah.

Pada awalnya, karya yang diciptakan sangat sederhana, namun seiring berjalannya waktu dan meningkatnya perhatian publik, desainnya menjadi semakin ambisius dan detail. Inisiatif ini sukses besar, mengubah sawah yang sepi menjadi tujuan wisata yang ramai, menarik ratusan ribu pengunjung setiap musim panas dan menyuntikkan kehidupan baru ke dalam ekonomi lokal.

Proses Kreatif yang Penuh Presisi

 

Menciptakan Tanbo Art bukanlah sekadar menanam padi secara acak. Prosesnya menuntut perpaduan sempurna antara teknik pertanian tradisional dan teknologi modern, seringkali membutuhkan waktu berbulan-bulan:

  1. Perencanaan Digital: Desain gambar dibuat pada komputer dengan menggunakan Computer-Aided Design (CAD). Gambar kemudian diproyeksikan dan dipecah menjadi koordinat geometris.

  2. Pemetaan Lapangan: Dengan menggunakan pengukuran yang tepat, sawah ditandai dengan ribuan pasak dan tali untuk menciptakan garis besar desain. Presisi sangat penting karena sedikit saja kesalahan dapat merusak seluruh komposisi.

  3. Penanaman yang Tepat Waktu: Berbagai varietas padi ditanam secara manual oleh sukarelawan dan penduduk desa pada waktu yang bersamaan di area-area yang telah ditentukan.

  4. Seni yang Fana: Karya seni ini bersifat sementara. Gambar mulai muncul jelas sekitar bulan Juli dan mencapai puncaknya pada Agustus dan awal September, sebelum akhirnya menghilang ketika padi mencapai kematangan dan siap dipanen.

Tanbo Art merupakan bukti nyata bagaimana budaya beras di Jepang mampu beradaptasi dan berkembang, merayakan warisan pertanian sekaligus merangkul kreativitas. Ini adalah cara unik masyarakat Jepang untuk menunjukkan bahwa dalam hal seni dan inovasi, langit—atau dalam hal ini, sawah—adalah batasnya.

Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!

BERAS BANYUWANGI - BINTANG PUSAKA JAYA