Di kawasan Timur Tengah dan Jazirah Arab, beras bukanlah sekadar bahan makanan; ia adalah komoditas strategis yang mendominasi meja makan, terutama dalam hidangan ikonik seperti Kabsa dan Mandi. Ironisnya, sebagian besar negara Arab adalah importir besar karena kondisi geografisnya yang didominasi gurun dan sangat minim air. Menanam beras, yang secara historis merupakan tanaman rakus air, di tengah lingkungan gersang ini menghadirkan tantangan besar, namun beberapa negara Arab kini bereksperimen dengan teknologi pertanian canggih untuk mencapai kedaulatan pangan.

Beras Banyuwangi - Pabrik Beras Banyuwangi

Krisis Air dan Ketergantungan

 

Tantangan utama dalam budidaya beras adalah kebutuhan air yang sangat tinggi. Secara global, menanam satu kilogram beras konvensional dapat membutuhkan antara 2.000 hingga 5.000 liter air. Di negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Qatar, sumber daya air tawar terbarukan sangat langka, dan sebagian besar air pertanian berasal dari akuifer fosil yang tidak dapat diisi ulang atau dari desalinasi yang berbiaya tinggi.

Di masa lalu, Irak dan Mesir adalah pengecualian karena memiliki sungai-sungai besar (Eufrat, Tigris, dan Nil), memungkinkan mereka menjadi produsen beras yang signifikan. Namun, bahkan negara-negara ini menghadapi tekanan air yang meningkat akibat perubahan iklim dan pembangunan bendungan hulu, memaksa pemerintah Mesir, misalnya, secara ketat membatasi atau melarang penanaman beras di beberapa area untuk menghemat air.

Inovasi Solusi di Tengah Gurun

 

Menghadapi ketergantungan impor dan kekhawatiran keamanan pangan, negara-negara Teluk yang kaya modal telah mengalihkan fokus ke inovasi teknologi untuk “mengelabui” gurun. Eksperimen pertanian Arab kini berpusat pada dua pendekatan utama:

1. Pertanian Vertikal dan Hidroponik/Aeroponik

 

Teknologi ini memindahkan pertanian ke lingkungan tertutup (Greenhouse) dan mengurangi kebutuhan air hingga 90% dibandingkan pertanian tradisional. Meskipun umumnya digunakan untuk sayuran berdaun, beberapa fasilitas telah mencoba menanam padi di dalam ruangan. Pendekatan ini mengatasi masalah suhu ekstrem dan penguapan, tetapi biaya energi untuk mengendalikan iklim dan pencahayaan masih sangat tinggi.

2. Budidaya Varietas Tahan Garam dan Kekeringan

 

Para ilmuwan di wilayah tersebut bekerja sama dengan lembaga internasional untuk mengembangkan galur padi yang dapat tumbuh subur di tanah yang terdegradasi dan diirigasi dengan air yang sedikit lebih asin. Salah satu contohnya adalah penelitian yang berfokus pada adaptasi tanaman untuk kondisi Gurun Arab, memanfaatkan genetika untuk meningkatkan efisiensi penggunaan air.

Proyek Percontohan dan Biaya Tinggi

 

Beberapa proyek percontohan telah berhasil menunjukkan kelayakan penanaman padi di gurun dalam skala terbatas. Keberhasilan ini, bagaimanapun, tidak meniadakan realitas ekonomi. Beras yang dihasilkan melalui metode intensif modal (seperti air desalinasi dan lingkungan terkontrol) jauh lebih mahal daripada harga beras impor dari Asia Selatan atau Asia Tenggara.

Oleh karena itu, budidaya beras di gurun lebih merupakan latihan dalam ketahanan dan kedaulatan pangan daripada upaya untuk mencapai keunggulan komparatif ekonomi. Tujuannya bukan untuk menggantikan impor secara total, tetapi untuk memastikan pasokan vital dapat dipertahankan selama masa krisis.

Secara keseluruhan, eksperimen pertanian di Arab menyoroti pertarungan antara kebutuhan dasar manusia dan realitas lingkungan yang keras. Meskipun inovasi menawarkan secercah harapan, beras di gurun akan tetap menjadi komoditas premium yang didorong oleh teknologi dan dibatasi oleh air.

Sudah coba Beras Banyuwangi? Rasakan pulennya hari ini!

BERAS BANYUWANGI - BINTANG PUSAKA JAYA